Senin, 21 Januari 2019

Topeng

"Topeng versi saya"


Kawan, seringkali kita melihat topeng berjajar di pasar. Para penjual menarik perhatian anak dengan memakainya. Kebanyakan topeng yang dijual adalah tokoh fiksi pahlawan yang sedang tren di televisi. Tapi kawan, saya disini bukan akan membahas topeng yang dijual di pasar, tapi topeng versi saya. Yaaaa..... semacam topeng kehidupan.


Relasi, hubungan... yahaaa.... dalam hidup pasti kita menjalani hubungan dengan orang lain bisa jadi orang terdekat seperti keluarga atau orang jauh seperti pertemanan. Kawan, terkadang kita sulit untuk berhubungan dengan orang lain yang bisa jadi karena perbedaan prinsip, ideologi atau hal lainnya. 


Namun, saya yakin jika kita berteman/ bersahabat pasti ada kesamaan diantara kita. Entah apa itu, walaupun ada satu dua perbedaan, hal itu bisa diredam dengan saling menguatkan saling percaya. Tentu setiap orang punya privasi masing-masing. Saya pikir zona itu yang harus kita jaga jika sudah terbuka maka kita bisa memasukinya jika belum itu tidak masalah. Tidak akan mengganggu pertemanan.


Sayangnya, dalam hidup ada saja orang yang memakai topeng dalam berbagai aktivitas. Sehingga kita sulit memahami dia. Menjadi apa adanya terlihat lebih baik, bukankah wajar ketika seorang manusia memiliki kekurangan. Disanalah sahabat mendukung, mendorong agar kita bisa terus maju. 


Topeng
Apakah para pejabat juga memakainya? Entahlah..... Untuk politik sendiri saya kurang paham, ketika saya berpikir tentang A nyatanya adalah B. Mungkin ini juga berlaku untuk kita agar tidak su'uzan terhadap orang lain. Karena politik penuh dengan interik kan. 




Minggu, 20 Januari 2019


“Hijrah versi saya”

Di tahun sekarang kata “hijrah” sudah sering kita dengar, bahkan dikalangan entertainment hijrah menjadi kata yang cukup sering diperbincangkan. Di beberapa majelis ilmu, hijrah menjadi tema yang sering di angkat untuk menarik perhatian atau masa.


Sebenarnya saya hanya ingin menulis saja, tanpa berniat menyinggung orang lain atau menulis pembenaran tentang diri saya sendiri.


Pengiinya nulis di tumblr, tapi efek udah di blokir oleh pemerintah dan gak berani menulis di media sosial yang lain. Jadi yaaa..... saya nulis di blog. Entah ada yang baca ataupun tidak, sayapun juga tidak tahu.


Hijrah menurut saya pribadi adalah berpndah/ melangkah ke arah yang lebih baik.
Sejujurnya, ketika sekolah tingkat SMA bagi saya muslimah keren itu yang pakai jins ketat, kaos, dan kerudung yang simple. Itu sudut pandang saya yaaa.....


Ketika beranjak kuliah, kebetulan bertemu saudara-saudara seiman yang lebih alim heheee......
Celana jins lama-lama tidak dipakai. Seringnya pakai rok.... sayapun “terpesona” hahaaa.... entah efek sudah 20’an mungkin ketika melihah seorang wanita muslimah yang memakai gamis besar dan kerudung yang cukup besar. Saya kagum. Dan bagi saya itu terlihat wanita yang anggun. ANGGUN.....


Hidupkan berproses yaaa.... dan saya awalnya memakai kerudung paris yang tipis itu. Pernah suatu ketika saya dan kawan membuat video untuk tugas kuliah. Dan teman saya memberitahu bahwa rambut dan leher saya terlihat/ terawang. Mulai saat itu saya memakai kerudung doble. Maklum, untuk membeli kerudung yang tebal uangnya belum cukup dan sayang sama kerudung yang udah ada heheeee....... #makasi sahabatku tercinta yang selalu mengingatkan saat terlupa


Sekarang berusaha memakai kerudung yang cukup, cukup menutupi dada. Seberapa besar? Bagi saya itu hak seorang, saya tidak berani menghakimi.

Gamis masih sedikit, bissmillah semoga terus nambah heheee... ^-^

Karena perintah Alloh Subhanahu Wa Ta’ala itu jelas, dan saya masih berharap diakui sebagai saudara Rosulullah Shallallahu’alayhi wa Sallam di hari kebangkitan kelak.
"visi" ^-^


Sekarang sayapun masih belajar
Sekarang sayapun masih berproses
Sekarang sayapun masih berhijrah
Walau kadang iman naik turun
Walau kadang mendapat sindiran dari orang lain
Hidup itu pilihan
Saya mencoba mencintai-Nya
Saya mencoba selalu mengingat-Nya
Maafkan jika saya lalai
Saya selalu percaya bahwa Alloh akan memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya
Al fatehah...... aaamiiin....



Minggu, 09 September 2018

Go Green dan Donasi Lombok bersama PPG Prajabatan UNISMA

Go Green dan Donasi Lombok bersama PPG Prajabatan UNISMA


Malam tak lagi terang oleh bintang
Rembulan juga enggan muncul di awal malam
Hanya hitam pekat yang nampak malam ini
Namun masih saja, aku ingin mencoba menulis
Mencoba kembali, memeluk tulisan yang lapuk
Karena sudah usang bersama waktu

Waktu telah berlalu, ketika aku menulis disini
Ada pengalaman baru, yang membuat aku ingin kembali
YOGYAKARTA
Aaaah.... ternyata tidak nyambung -_-


Yuhuuuu...... Sekarang aku bersama kawan-kawan perantauan berada di sebuah kota yang terkenal dengan buah apel. Kota yang dikenal dengan para seporter sepak bola yang paling tertib. Kota mana REK? yaaaa...... Kota MALANG.


Tapi aku belum mau membahas, kenapa aku disini. Aku hanya ingin menulis tentang sedikit kegiatan kami saat merada di Malang. Mungkin ditulisan selanjutnya akan aku tulis "kenapa aku di kota Malang?" Oke back to topik, sesuai judul postingan ^_^



Pada hari Minggu, 02 September 2018, di kota Malang tepatnya saat kota tersebut mengadakan Car Free Day . Saya bersama squad  PPG Prajabatan UNISMA G III 2018 mengadakan kegiatan berupa "GO GREEN" dan "DONASI LOMBOK"
Kami mengadakan kegitan tersebut karena memang sudah kami agendakan sebelumnya, selain untuk menguatkan ikatan juga agar kami bisa terlibat secara langsung dengan masyarakat kota Malang.

Saya akan bahasa kegiatan yang pertama dahulu, yaitu Go Green. Awalnya kami ada banyak usul kegitan untuk Go Green, namun karena kami ingin yang sederhana namun memiliki dampak atau efek yang positif maka kami mengadakan bersih-bersih di sepanjang jalan saat ada CFD dengan mengumpulkan sampah dalam satu kantong yang cukup besar. Memang dengan jumlah kami yang hanya ber-16 belum bisa banyak membantu untuk kebersihan selama acara CFD, namun hal sederhana ini diharapkan bisa menyadarkan masyarakat khususnya kami sendiri bahwa kebersihan sangatlah penting. Jika tempat yang kita lalui bersih, maka kita akan nyaman berada disana. Khusunya CFD yang diselenggaran setiap minggu di kota Malang. Berikut foto kegiatan kami, cek this out 
Cukup banyak sampah yang kami kumpulkan, selanjutnya sampah yang kami kumpulkan kami letakkan di tempat sampah. Semoga setiap orang yang mengikuti kegiatan CFD di Kota Malang bisa menjaga kebersihan agar tidak ada lagi sampah yang berserakan yang membuat pemandangan rasanya kurang sedap di pandang.

Oke, next...... Kegiatan kedua kami adalah mengumpulkan donasi untuk saudara kita di Lombok, ketika tanggal tersebut, ternyata saat minggu pagi di Pulau Lombok masih terjadi gempa dengan skala sekitar 5 SR. Kami berjalan menyusuri jalan sepanjang CFD dari tempat senam sampai Tugu..... Kalau lelah itu pasti, namun lelah kami terbayar dengan ketulusan dan keikhlasan saudara kami yang berdonasi untuk warga Lombok. Bahkan kami sempat bertemu dengan beberapa orang asli Pulau Lombok yang mengungsikan saudaranya ke Malang. Semoga semua bisa kembali pulih dan bencana berakhir dengan terselesaikan semua masalah.

Dari kegiatan Donasi untuk Lombok, Alhamdulillah dana dapat terkumpul sebesar Rp. 1.050.000,- dan segera kami salurkan melalui Yayasan HSI Abdullah Roy.... Semoga dana tersebut bermanfaat dan berkah untuk semuanya. Berikut foto kehiatan kami

Terima kasih untuk semua pihak yang membatu dan memperlancar kegiatan kami

Salam ANAK RANTAU


Jumat, 13 Januari 2017

Puisi

Apakah kamu suka baca puisi? Sejujurnya, aku bukanlah seorang yang paham betul tentang sastra. Namun sungguh aku suka membaca, yatta bisa dikatakan seorang penikmat tulisan. Dan yang akan aku tulis ini adalah beberapa puisi yang sangat kusuka. Sastrawan favoritku salah satunya bpk Taufiq Ismail,  tapi kali ini aku akan menulis puisi karya Asrul Sani dan karya Sapardi Djoko Damono. masih banyak sastrawan yang lain yang memiliki karya luar biasa bahkan sampai mendunia. Bagaimana dengan karya WS. Rendra dan Chairil Anwar? Mungkin di kesempatan lain aku akan menulis karya beliau-beliau.

Oke, cek this out (?)


Aku Ingin

karya Sapardi Djoko Damono

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

              aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
              dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
              awan kepada hujan yang menjadikannya tiada






Surat dari Ibu
karya Asrul Sani, 1948

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke hidup bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagimenyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintuu waktu lampau.

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiupp ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nahkoda sudah tahu pedoman
Boleh engkau datang padaku!

Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapatke tepi
Kita akan bercerita
"Tentang cinta dan hidupmu pagi hari."



Rabu, 12 Oktober 2016

Martabak oh martabak. MANIS ^_^

Assalamu’alaikum w.w.

Good nigh gaes….. hehe, malam ini ifni pengin nulis tentang percobaan masak ifni yang AMAZING hari ini hahaha…..

Temen-temen pasti udah pada tau apa itu martabak maniskan? Ifni juga suuuka banget dan langganan beli. So karena kepo dan juga punya wajan teflon, ifni jadi browsing-browsing cara buat martabak di internet.


Coba-coba dan jeng-jeng

Ifni ikuti panduan resep yang ada dan beli di toko dari terigu, mentega, meses, keju, susu, baking soda tak lupa telur serta gula garam. Di internet banyak sekali variasi resep dan ifni pilih resep yang menggunakan 250 gr terigu agar adonan tidak terlalu banyak.

Kesalahan pertama: Setelah sampai rumah dan mencapur bahan, ifni baru sadar kalo susu cair yang ifni beli adalah susu COKLAT…….. yuhuu ifni beli susu kotak kemasan 200 ml 2 buah. Tapi ndak papa, yang penting semua bahan lengkap ^_^

Kemudian ifni kocok rata sampai keringetan haha (efek gak ada mixer), setelah tercampur rata ifni diamkan adonan sekitar 45 menit.

Setelah cek adonan ifni siapkan wajan teflon yang ukuran cukup besar seraya memanaskan mentega.

Kesalahan kedua: Ifni gak nyangka kalo adonan jadi cukup banyak, ketika ifni tuang ke Teflon jadi penuh haha….. Karena panik ifni matikan api dulu dan mengurangi jumlah adonan di wajan. Ifni kira hanya bisa buat satu kali masak ternyata bisa jadi dua.

Setelah matang ifni olesi metega, gula, meses, dan keju. Martabak manis ala ifni siap dihidangkan…………. ^_^

Gak ada gambar, dari segi warna jadi coklat cantik karena pake susu coklat hehe, Alkhamdulilah dua martabak ifni ludes masuk perut bapak, ibu, mbah dan aku sendiri.


Kesimpulan, buat temen-temen jangan takut mencoba yap…. Pasti bisa yang penting mateng dan gak gosong haha…. INGAT masak martabak menggunakan api kecil. ^0^



Terima kasih ^_^

Wassalamu’alaikum w.w. ^0^

Kamis, 29 September 2016

Wis lulus? kapan kerja? ^_^

Pagi-pagi…. SEMANGAT ^o^

Assalamu’alaikum w.w.

Yo yo yo….
Efek gak ada motor, jadi ifni sering pinjam sana-sini. Hm…. Kemarin sudah nyebarin lamaran…
Eits… bukan lamaran jodoh, kalo itu mah ifni yang mau di lamar ^_^

Efek Sarjana jadi nyari kerja ke sekolah2, ngelamar jadi guru honorer. Bismillah semoga segera ada panggilan, so ini daftar sekolah yang sudah ifni apply

1.       SMP Negeri 1 Purwareja Klampok
2.       SMP Negeri 2 Purwareja Klampok
3.       SMP Negeri 3 Purwareja Klampok
4.       SMA Negeri 1 Purwareja Klampok
5.       SMP PGRI Purwareja Klampok
6.       SMA PGRI Purwareja Klampok
7.       SMK HKTI 1 Purwareja Klampok
8.       SMK HKTI 2 Purwareja Klampok
9.       SMP IT Mutiara Hati  Purwareja Klampok
10.   SMP Negeri 1 Mandiraja
11.   SMA Negeri 1 Purwanegara
12.   SMP Negeri 2 Bawang
13.   SMA Negeri 1 Bawang
14.   SMK Negeri 1 Bawang
15.   SMP Negeri 1 Susukan
16.   SMP Negeri 2 Susukan
17.   SMP Negeri 3 Susukan
18.   SMK Negeri 1 Susukan
19.   SMP Negeri 1 Bukateja
20.   SMP Negeri 2 Bukateja
21.   SMA Negeri 1 Bukateja
22.   SMK Negeri 1 Bukateja

Semoga dari 22 sekolah yang ifni apply, ada posisi daaaaan Ifni bisa jadi guru. Aaaaamiiiiiin ^_^

Agar dekat rumah dan hemat transport, bayar hutang sampai LUNAS. Aaaaamiiiin…..

Hidup itu berjuang

Wassalamu’alaikum w.w.


SEMANGAT…. Yosh ^0^

Jumat, 23 September 2016

Penyalinan Mushaf Al Qur’an dari Masa ke Masa

Assalamu’alaikum w.w. Selamat siang, SEMANGAT….. \^o^/

Sejujurnya, Ifni bingung mau nulis tentang apa. Semoga tulisan ini bermanfaat. Aaaamiiiin
Sumber: Penyalinan Mushaf Al Qur’an dari Masa ke Masa (Bayl Al Qur’an & Museum Al Qur’an)
Saya masih ingat, pada tanggal 11 Agustus 2016 saya diajak Sulimah ke UMY bersama mz Akhyar, mz Amin dan dua IMMawati . Dan ketika masuk Sportorium ada stand yang memberikan buku gratis dan juga kuis. Salah satu buku yang saya dapat adalah ini ^o^

Oke, happy reading


Al Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diyakini kebenarannya dan keasliannya sepanjang zaman. Allah menurunkan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus senantiasa menjaganya dari segala bentuk perubahan maupun pemalsuan. 15 abad sejak diturunkan pertama kali di Gua Hira (17 Ramadan th 10 sebelum H/ 6 Agustus 611) hingga saat ini, Al Qur’an dibaca dan diamalkan oleh umat Muslim di semua penjuru dunia tanpa ada perbedaan bacaan sedikitpun, sesuai dengan riwayat qiraat yang dianutnya. Adapun dari segi penulisan, terdapat perbedaan dalam beberapa hal menyangkut rasm (khat), gaya penulisan atau kaligrafi, tanda baca atau harakat, dan aspek fisik lainnya yang secara substansi tetap sama. Dalam tulisan ini saya menulis secara singkat sejarah penulisan dan penyalinan Al Qur’an secara kronologis dari masa Nabi Muhammad SAW hingga masa Utsman di Turki.


1.       PENULISAN AL QUR’AN MASA NABI SAW (w.632)
Abad 1 H/ 7 M., Ibukota: Madinah
Wilayah kekuasaan: Jazirah Arab

Pada fase ini Al Qur’an masih banyak tersimpan dala memori hafalan para sahabat. Menuru Al-Faruqi, sampai Nabi Muhammad SAW wafat, umat Islam yang hafal seluruhnya dan sebagian mencapai 30.000 orang. Disisi lain, terdapat beberapa tulisan para sahabat dalam bentuk naskah pribadi, dan belum berbentuk mushaf seperti saat ini.
Setiap kali menerima wahyu, Nabi Muhammad SAW selalu memanggil para sahabat untuk menulikannya, sekaligus memberi arahan peletakan ayat/ surahnya. Dalam sebagian riwayat terdapat informasi, setidaknya tercatat 65 sahabat yang diberi tugas sebagai pencatat wahyu (kuttab al-Wahy). Zaid bin Tsabit merupakan salah satu sahabat yang paling sering dipanggil oleh Nabi SAW untuk mencatat setiap wahyu yang baru saja beliau terima. Sehingga praktis, semua wahyu yang sudah diterima oleh Nabi SAW tercata diatas berbagai bahan atau media tulis yang ada pada waktu it seperti: kulit binatang, pelepah kurma, batu-batuan tipis dan lain-lain. Bentuk kaligrafi yang dipakai saat itu adalah bentuk Kufi, dan tulisan pada masa tersebut belum mengenal tanda diakritik (tanda baca) dan titik-titik huruf yang memiliki bentuk serupa.
Salah satu persoalan yang sering diperdebatkan dikalangan ahli adalah dari manakah asal-usul akasara Arab. Beberapa ahli yang mencoba meneliti permasalahan ini ada yang mengatakan berasal dari Nabatean, Syriak, Funicia dan lain sebagainya. Beberapa prasasti Arab pra-Islam sudah menunjukan penggunaan titik sebagai pembeda huruf, namun hingga masa Islam penggunaan tanda titik huruf ini belum banyak digunakan, termasuk dalam penulisan Al Qur’an. Setidaknya hingga masa akhir khulafaur-rashidin, penulisan Al Qur’an belum diberikan tanda titik (naqtul I’jam).


2.       PENULISAN AL QUR’AN  MASA KHULAFAUR-RASYIDIN (632-661 M)
Pada fase ini, sejarah pembukuan Al Qur’an menjadi sebuah mushaf resmi mengalami perkembangan signifikan, yakni pada masam Abu Bakar Ash-Shiddiq (berkuasa dari th 632-634 M) dan Utsman bin ‘Affan (berkuasa dari th 644-655 M).

A.      Masa Abu Bakar (w. 634 M)
Abad 1 H/ 7 M,. ibukot: Madinah
Wilayah kekuasaan Islam: Jazirah Arab
Pada masa Abu Bakar, atas inisiatif Umar bin Khattab (w. 644 M) dibentuk tim kodifikasi Al Qur’an menjadi 1 bundel Mushaf yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit (w.637 M), yang dala seajrah dikenal dengan sebutan Suhuf Abu Bakar. Suhuf Abu Bakar merupakan naskah original yang tidak didandakan dan hanya disimpan oleh Abu Bakar selaku khalifah, sebagai langkah antisipasi terhadap hilangnya Al Qur’an bersamaan dengan meninggalnya banyak para hafiz Al Qur’an pada perang Yamamah. Tidak ada keterangan valid seperti apa fisik Suhuf Abu Bakar, namun besar kemungkinan masih sama dengan model tulisan di zaman Nabi yang belum memiliki  titik harakat dan titik huruf. Masa pengumpulan Al Qur’an di masa ini disebut jga dalam sejarah sebagai masa Kodifikasi Pertama Al Qur’an (al-Jam’ al-Awwal).

B.      Masa Utsman bin Affan (w. 656 M)
Abad 1 H/ 7 M,. Ibukota: Madinah
Wilayah kekuasan Islam: Mekah, Madinah, Syiria dan Mesir di Asia Tengah dan Azarbaijan di Asia Selatan, Cyprus dan Rhodes.
Pada masa ini, atas inisiatif Hudzaifah bin Yaman (w. 36 H) yang menyaksikan langsung perselisihan atas perbedaan qira’at antara para pasukan muslim Syam (yang bacaanya berstandar kapada bacaan al-Miqdad bin Aswad) dan pasukan muslim dari Irak (yang berguru dari Ibnu Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari) saat pembebasan Armenia dan Azerbaijan yang hampir saling mengkafirkan satu sama lain, khalifah Utsman kembali mengaktifkan tim kodifikasi dengan ketuanya Zaid bin Tsabit dengan beranggotakan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah b8n Az-Zubair (w. 629 M), Said bin Al-Ash (w. 679 M), dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam untuk merumuskan dan menyatukan perselisihan yang ada. Tim ini bekerja dengan basis Suhuf Abu Bakar yang disimpan de Ummul Mukminin, Hafsah binti Umar, dan diverifikasi dengan beberapa mushaf pribadi para sahabat dan disesuaikan dengan qira’ah-qira’ah mutawatirah, sehingga tidak terjadi perselisihan lagi, dan akhirnya terbentuklah mushaf-mushaf Utsmani (al-mashahif al-‘utsmaniyah) yang kemudian didistribusikan ke beberapa jantung-jantung kekuasaan Islam dengan diiringi para qari’ yang ahli, untuk dijadikan standar penulisan. Kota-kota tersebut adalah Mekkah, Syam, Basrah, Kufah, Madinah dan dokumen Khalifah Utsman (Mushaf al-Imam).
Bentuk mushaf yang disalin ulang pada amsa khalifah Utsman tidak banyak berbeda dengan bentuk penulisan pada masa nabi SAW dan khalifah sebelumnya, yaitu dari sisi kaligrafi yang berbentuk kufidan belum terdapat tanda diakritik (tanda baca) dan titik-titik huruf, baik titik harakat (naqt al-i’rab) maupun titik huruf (naqt al-i’jam). Masa pengumpulan Al Qur’an di masa ini disebut juga dalam sejarah sebagai masa Kodifikasi kedua Al Qur’an (al-Jam’ al-Tsani).


3.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI UMAIYAH (661-750 M)
Abad 1-20 H (40-132 H)/ 7-8 M (661-750 M)
Ibukota: Damaskus (Syiria). Wilayah kekuasaan: Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Afganistan, Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirgistan di Asia Tengah.

Perkembangan penyalinan Al Qur’an pada masa ini mengalami perkembangan cukup signifikan dari masa-masa sebelumnya, seiring dengan semakin meluasnyakekuasaan Islam. Meskipun kaligrafi yang dipergunakan pada umumnya masih menggunakan khat kufi awal yang sederhana (Early Kufic). Namun, pada masa ini telah dirintis pemberian titik-titik yang berfungsi sebagai tanda baca (naqt al-I’rab), tepatnya pada tahun 45-53 H/ 666-673 M., di Basrah, pada masa Gubernur Ziyad bin Ziyad yang pada waktu itu memerintahkan Abu al-Aswad ad-Dualiy (w. 62 H/ 682 M). Titik-titik ini berbentuk bulatan warna merah untuk tanda diakritik, hijau untuk hamzah, dan kuning untuk tasydid. Selain terjadi perkembangan titik tanda baca,pada masa ini juga dirintis titik-titik untuk huruf yang mirip (ba’, ta, tsa, dll) yang diinisiasi oleh al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, yang berkuasa pada 75-95 H/ 694-786 M melalui Yahya bin Ya’mar yang wafat sebelum tahun 90 H dan Nashir bin ‘Ashim (w. 90 H/ 709 M).
Adapun sebagian besar iluminasi atau ragam hias yang digunakan adalah ragam hias floral (tetumbuhan) dan geoemetris. Penjilidan dengan bahan kulit binatang, namun masih sederhana.


4.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI ‘ABBASIYAH (750-1258 M)
Abad 8-13 M (132-656 H/ 750-1258 M)
Ibukota: Baghdad. Wilayah kekuasaan Islam: Mekah, Madinah, Maroko, Mesir, Syiria, Irak, Persia, Turki dan India.

Penyalinan Al Qur’an pada masa ini dapat terlihat pada kaligrafi kufi awal yang bentuknya sederhana semakin berkembang, dan menajdi masyhur ke dalam 2 kelompok model/ gaya, yakni gaya Kufi Timur (Estern Kufic) dan Kufi Barat (Western Kufic). Kufi Timur diantaranya berkembang di Persia dan sekitarnya, sementara Kufi Barat lebih berkembang di Afrika Utara dan Andalusia (Spanyol). Selain berkembang Kufi Timur, pada masa Abbasiyah juga berkembang Naskhi awal (Early naskhi) dan Raihani, Muhaqqaq dan Tsulus, walaupun untuk penulisan kepala surah pada umumnya masih mempertahankan bentuk khat kufi timur.
Perkembangan pada fase selanjutnya adalah penyempurnaan titik-titik tanda baca karya ad-Du’aly, oleh al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H/ 786 M) dengan titik huruf ke dalam tanda-tanda berbentuk huruf dan simpul kecil, seperti: harakat amanah dengan bentuk huruf waw kecil, fathah baris seperti alif yang dimiringkan, tanda sukun dengan kepala ha’, tasydid dengan kepala huruf sin, dan lain-lain.
Dalam catatan sejarah, setelah runtuhnya dinasti ‘Abbasiyah 1258 M, nyaris tidak ada satupun pemerintahan tunggal dalam Islam, kecuali beberapa dinasti kecil yang ikut memberikan sumbangsih dalam sejarah penyalinan Al Qur’an, seperti; Dinasti Mamluk, Dinasti Ilkan dan Dinasti Timur.


5.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI MAMLUK (1250-1517 M)
Abad 13-16 M (1250-1517 M). Ibukota: Mesir
Wilayah kekuasaan: Mesir dan sebagian Syiria

Berkembangnya kemampuan menulis pada zaman Dinasti  ‘Abbasiyah,pada masa ini mushaf Al Qur’an banyak disalin dengan Khat Tsulus dan Muhaqqaq. Sementara tanda baca yang dipakai adalah bentuk kombinasi titik huruf dar pola al-Hajjaj bin Yusuf dan kreasi symbol tanda baca (bukan titik) hasil kreasi al-Khalil bin Ahmad. Adapun pola ad-Duali sudah mulai ditinggalkan, beberapa tanda symbol waqaf tam berupa simpul huruf ta’ juga mulai dikenalkan pada masa ini. Penjilidan dengan bahan kulit kambing dengan warna coklat dipadu dengan warna emas.


6.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI ILKAN (1256-1353 M)
Abad 13-14 M. Ibukota: Turkistan, Asia Tengah.
Wilayah kekuasaan: Baghdad dan daerah-daerah jaiahannya.

Permkembangan penyalinan Al Qur’an pada masa ini hampir bersamaan dengan dinasti Mamluk di Mesir. Pada fase ini, mushaf Al Qur’an banyak disalin dengan khat Muhaqqaq dengan kaligrafi kepala surah Kufi Timur dengan warna emas. Sementara tanda baca yang dipakai, hampir sama dengan dinasti Mamluk namun mushaf dari masa ini tidak menyertakan beberapa tanda symbol tanda waqaf sebagaimana dinasti Mamluk.
Ragam hias (iluminasi) yang digunakan adalah floral (tetumbuhan)  dan geometris, sedangkan penjilidan menggunakan bahan kulit kambing dengan warna coklat, dengan dihias warna emas pada bagian luar sampul.


7.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA KERAJAAN SHAFAWI DI PERSIA (1501-1736 M)
Kerajaan Safawi, Abad 16-18 M (1501-1736 M)
Ibukota: Tabriz/ Qazvin/ Isfahan. Wilayah kekuasan: Iran, Azerbaijan, Armenia, sebagian Irak, Georgia, Afganistan, Kaukasus, sebagian Pakistan, Turkmenistan, dan Turki.

Perkembangan penyalinan Al Qur’an pada masa ini hampir bersamaan dengan runtuhnya Dinasti Timur, pada fase ini mushaf Al Qur’an benyak disalin dengan khat Tha’liq dan Nasta’liq (gabungan antara khat Naskhi dan Ta’liq). Sementara tanda baca yang dipakai, hampir sama dengan tiga dinasti sebelumnya. Ragam hias yang digunakan terutama adalah raga hias floral dan geometris, penjilidan menggunakan bahan kulit kambing dengan warna coklat dipadu dengan warna emas.


8.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA KERAJAAN MUGHAL (1526-1540 M DAN 1555-1857 M)
Ibukota: Delhi. Wilayah kekuasaan: India
Perkembangan penyalinan Al Qur’an pada masa ini hampir bersamaan dengan berkembangnya kerajaan di Persia dan Usman di Turki. Pada fase ini mushaf Al Qur’an banyak disalin dengan Naskhi dan Tsulus. Sementara kepala surah dengan khat Ruqa’. Adapun tanda baca yang dipakai, hampir sama dengan tiga dinasti sebelumnya. Terdapat kreasi baru, seperti; tanda madd jaiz yang ditulis seperti tanda madd wajib dalam Mushaf Standar Indonesia.


9.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI USMAN D TURKI (1299-1923 M)
Abad 13-20 M (1299-1923 M)
Ibukota: Konstantinopel (Istanbul). Wilayah kekuasaan: Syiria, Mesir dan Arabia.

Perkembangan penyalinan Al Qur’an pada masa ini hampir bersamaan Kerajaan Syafawi dan Mughal. Pada fase ini, mushaf Al Qur’an banyak disalin dengan khat naskhi. Sementara tanda baca yang dipakai, hampir sama dengan dua kerajaan lainnya dan tiga dinasti sebelumnya; Dinasti Mamlkuk, Ilkan dan Timur. Seni ragam hias pada masa ini sudah sangat maju, hal ini tampak pada mushaf-mushaf yang tersimpan hingga saat ini kebanyakan dihiasi dengan iluminasi yang sangat indah, perpaduan antara ragam hias floral dan geometris.


*Untuk gambar menyusul yap….

Waaaa baru ini ifni nulis paaaaanjang. SEMANGAT \^o^/
Wassalamu’alaikum w.w.