Assalamu’alaikum w.w. Selamat
siang, SEMANGAT….. \^o^/
Sejujurnya, Ifni bingung mau
nulis tentang apa. Semoga tulisan ini bermanfaat. Aaaamiiiin
Sumber: Penyalinan Mushaf Al
Qur’an dari Masa ke Masa (Bayl Al Qur’an & Museum Al Qur’an)
Saya masih ingat, pada tanggal 11
Agustus 2016 saya diajak Sulimah ke UMY bersama mz Akhyar, mz Amin dan dua
IMMawati . Dan ketika masuk Sportorium ada stand yang memberikan buku gratis
dan juga kuis. Salah satu buku yang saya dapat adalah ini ^o^
Oke, happy reading
Al Qur’an merupakan kitab suci
umat Islam yang diyakini kebenarannya dan keasliannya sepanjang zaman. Allah
menurunkan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus senantiasa menjaganya
dari segala bentuk perubahan maupun pemalsuan. 15 abad sejak diturunkan pertama
kali di Gua Hira (17 Ramadan th 10 sebelum H/ 6 Agustus 611) hingga saat ini,
Al Qur’an dibaca dan diamalkan oleh umat Muslim di semua penjuru dunia tanpa
ada perbedaan bacaan sedikitpun, sesuai dengan riwayat qiraat yang dianutnya.
Adapun dari segi penulisan, terdapat perbedaan dalam beberapa hal menyangkut
rasm (khat), gaya penulisan atau kaligrafi, tanda baca atau harakat, dan aspek
fisik lainnya yang secara substansi tetap sama. Dalam tulisan ini saya menulis
secara singkat sejarah penulisan dan penyalinan Al Qur’an secara kronologis
dari masa Nabi Muhammad SAW hingga masa Utsman di Turki.
1.
PENULISAN
AL QUR’AN MASA NABI SAW (w.632)
Abad 1 H/ 7 M., Ibukota: Madinah
Wilayah kekuasaan: Jazirah Arab
Pada fase ini Al Qur’an masih
banyak tersimpan dala memori hafalan para sahabat. Menuru Al-Faruqi, sampai
Nabi Muhammad SAW wafat, umat Islam yang hafal seluruhnya dan sebagian mencapai
30.000 orang. Disisi lain, terdapat beberapa tulisan para sahabat dalam bentuk
naskah pribadi, dan belum berbentuk mushaf seperti saat ini.
Setiap kali menerima wahyu, Nabi
Muhammad SAW selalu memanggil para sahabat untuk menulikannya, sekaligus memberi
arahan peletakan ayat/ surahnya. Dalam sebagian riwayat terdapat informasi,
setidaknya tercatat 65 sahabat yang diberi tugas sebagai pencatat wahyu (kuttab
al-Wahy). Zaid bin Tsabit merupakan salah satu sahabat yang paling sering
dipanggil oleh Nabi SAW untuk mencatat setiap wahyu yang baru saja beliau
terima. Sehingga praktis, semua wahyu yang sudah diterima oleh Nabi SAW tercata
diatas berbagai bahan atau media tulis yang ada pada waktu it seperti: kulit
binatang, pelepah kurma, batu-batuan tipis dan lain-lain. Bentuk kaligrafi yang
dipakai saat itu adalah bentuk Kufi, dan tulisan pada masa tersebut belum
mengenal tanda diakritik (tanda baca) dan titik-titik huruf yang memiliki
bentuk serupa.
Salah satu persoalan yang sering
diperdebatkan dikalangan ahli adalah dari manakah asal-usul akasara Arab.
Beberapa ahli yang mencoba meneliti permasalahan ini ada yang mengatakan
berasal dari Nabatean, Syriak, Funicia dan lain sebagainya. Beberapa prasasti Arab
pra-Islam sudah menunjukan penggunaan titik sebagai pembeda huruf, namun hingga
masa Islam penggunaan tanda titik huruf ini belum banyak digunakan, termasuk
dalam penulisan Al Qur’an. Setidaknya hingga masa akhir khulafaur-rashidin,
penulisan Al Qur’an belum diberikan tanda titik (naqtul I’jam).
2.
PENULISAN
AL QUR’AN MASA KHULAFAUR-RASYIDIN
(632-661 M)
Pada fase ini, sejarah pembukuan Al Qur’an
menjadi sebuah mushaf resmi mengalami perkembangan signifikan, yakni pada masam
Abu Bakar Ash-Shiddiq (berkuasa dari th 632-634 M) dan Utsman bin ‘Affan
(berkuasa dari th 644-655 M).
A. Masa
Abu Bakar (w. 634 M)
Abad 1 H/ 7 M,.
ibukot: Madinah
Wilayah kekuasaan
Islam: Jazirah Arab
Pada masa Abu Bakar, atas
inisiatif Umar bin Khattab (w. 644 M) dibentuk tim kodifikasi Al Qur’an menjadi
1 bundel Mushaf yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit (w.637 M), yang dala seajrah
dikenal dengan sebutan Suhuf Abu Bakar. Suhuf Abu Bakar merupakan naskah
original yang tidak didandakan dan hanya disimpan oleh Abu Bakar selaku
khalifah, sebagai langkah antisipasi terhadap hilangnya Al Qur’an bersamaan
dengan meninggalnya banyak para hafiz Al Qur’an pada perang Yamamah. Tidak ada
keterangan valid seperti apa fisik Suhuf Abu Bakar, namun besar kemungkinan
masih sama dengan model tulisan di zaman Nabi yang belum memiliki titik harakat dan titik huruf. Masa pengumpulan
Al Qur’an di masa ini disebut jga dalam sejarah sebagai masa Kodifikasi Pertama
Al Qur’an (al-Jam’ al-Awwal).
B. Masa
Utsman bin Affan (w. 656 M)
Abad 1 H/ 7 M,.
Ibukota: Madinah
Wilayah kekuasan
Islam: Mekah, Madinah, Syiria dan Mesir di Asia Tengah dan Azarbaijan di Asia
Selatan, Cyprus dan Rhodes.
Pada masa ini, atas inisiatif
Hudzaifah bin Yaman (w. 36 H) yang menyaksikan langsung perselisihan atas
perbedaan qira’at antara para pasukan muslim Syam (yang bacaanya berstandar
kapada bacaan al-Miqdad bin Aswad) dan pasukan muslim dari Irak (yang berguru
dari Ibnu Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari) saat pembebasan Armenia dan
Azerbaijan yang hampir saling mengkafirkan satu sama lain, khalifah Utsman
kembali mengaktifkan tim kodifikasi dengan ketuanya Zaid bin Tsabit dengan
beranggotakan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah b8n Az-Zubair (w. 629 M), Said
bin Al-Ash (w. 679 M), dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam untuk
merumuskan dan menyatukan perselisihan yang ada. Tim ini bekerja dengan basis
Suhuf Abu Bakar yang disimpan de Ummul Mukminin, Hafsah binti Umar, dan
diverifikasi dengan beberapa mushaf pribadi para sahabat dan disesuaikan dengan
qira’ah-qira’ah mutawatirah, sehingga tidak terjadi perselisihan lagi, dan
akhirnya terbentuklah mushaf-mushaf Utsmani (al-mashahif al-‘utsmaniyah) yang
kemudian didistribusikan ke beberapa jantung-jantung kekuasaan Islam dengan
diiringi para qari’ yang ahli, untuk dijadikan standar penulisan. Kota-kota
tersebut adalah Mekkah, Syam, Basrah, Kufah, Madinah dan dokumen Khalifah
Utsman (Mushaf al-Imam).
Bentuk mushaf yang disalin ulang
pada amsa khalifah Utsman tidak banyak berbeda dengan bentuk penulisan pada
masa nabi SAW dan khalifah sebelumnya, yaitu dari sisi kaligrafi yang berbentuk
kufidan belum terdapat tanda diakritik (tanda baca) dan titik-titik huruf, baik
titik harakat (naqt al-i’rab) maupun titik huruf (naqt al-i’jam). Masa pengumpulan
Al Qur’an di masa ini disebut juga dalam sejarah sebagai masa Kodifikasi kedua
Al Qur’an (al-Jam’ al-Tsani).
3.
PENYALINAN
MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI UMAIYAH (661-750 M)
Abad 1-20 H (40-132 H)/ 7-8 M (661-750 M)
Ibukota: Damaskus (Syiria). Wilayah
kekuasaan: Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina, Jazirah Arab, Irak,
sebagian Asia Kecil, Afganistan, Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan dan
Kirgistan di Asia Tengah.
Perkembangan penyalinan Al Qur’an
pada masa ini mengalami perkembangan cukup signifikan dari masa-masa
sebelumnya, seiring dengan semakin meluasnyakekuasaan Islam. Meskipun kaligrafi
yang dipergunakan pada umumnya masih menggunakan khat kufi awal yang sederhana
(Early Kufic). Namun, pada masa ini telah dirintis pemberian titik-titik yang
berfungsi sebagai tanda baca (naqt al-I’rab), tepatnya pada tahun 45-53 H/
666-673 M., di Basrah, pada masa Gubernur Ziyad bin Ziyad yang pada waktu itu memerintahkan
Abu al-Aswad ad-Dualiy (w. 62 H/ 682 M). Titik-titik ini berbentuk bulatan
warna merah untuk tanda diakritik, hijau untuk hamzah, dan kuning untuk tasydid.
Selain terjadi perkembangan titik tanda baca,pada masa ini juga dirintis
titik-titik untuk huruf yang mirip (ba’, ta, tsa, dll) yang diinisiasi oleh al-Hajjaj
bin Yusuf Ats-Tsaqafi, yang berkuasa pada 75-95 H/ 694-786 M melalui Yahya bin
Ya’mar yang wafat sebelum tahun 90 H dan Nashir bin ‘Ashim (w. 90 H/ 709 M).
Adapun sebagian besar iluminasi
atau ragam hias yang digunakan adalah ragam hias floral (tetumbuhan) dan geoemetris.
Penjilidan dengan bahan kulit binatang, namun masih sederhana.
4.
PENYALINAN
MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI ‘ABBASIYAH (750-1258 M)
Abad 8-13 M (132-656 H/ 750-1258 M)
Ibukota: Baghdad. Wilayah kekuasaan Islam:
Mekah, Madinah, Maroko, Mesir, Syiria, Irak, Persia, Turki dan India.
Penyalinan Al Qur’an pada masa
ini dapat terlihat pada kaligrafi kufi awal yang bentuknya sederhana semakin
berkembang, dan menajdi masyhur ke dalam 2 kelompok model/ gaya, yakni gaya Kufi
Timur (Estern Kufic) dan Kufi Barat (Western Kufic). Kufi Timur diantaranya
berkembang di Persia dan sekitarnya, sementara Kufi Barat lebih berkembang di Afrika
Utara dan Andalusia (Spanyol). Selain berkembang Kufi Timur, pada masa
Abbasiyah juga berkembang Naskhi awal (Early naskhi) dan Raihani, Muhaqqaq dan
Tsulus, walaupun untuk penulisan kepala surah pada umumnya masih mempertahankan
bentuk khat kufi timur.
Perkembangan pada fase selanjutnya
adalah penyempurnaan titik-titik tanda baca karya ad-Du’aly, oleh al-Khalil bin
Ahmad al-Farahidi (w. 170 H/ 786 M) dengan titik huruf ke dalam tanda-tanda
berbentuk huruf dan simpul kecil, seperti: harakat amanah dengan bentuk huruf
waw kecil, fathah baris seperti alif yang dimiringkan, tanda sukun dengan
kepala ha’, tasydid dengan kepala huruf sin, dan lain-lain.
Dalam catatan sejarah, setelah
runtuhnya dinasti ‘Abbasiyah 1258 M, nyaris tidak ada satupun pemerintahan
tunggal dalam Islam, kecuali beberapa dinasti kecil yang ikut memberikan
sumbangsih dalam sejarah penyalinan Al Qur’an, seperti; Dinasti Mamluk, Dinasti
Ilkan dan Dinasti Timur.
5.
PENYALINAN
MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI MAMLUK (1250-1517 M)
Abad 13-16 M (1250-1517 M). Ibukota: Mesir
Wilayah kekuasaan: Mesir dan sebagian
Syiria
Berkembangnya kemampuan menulis
pada zaman Dinasti ‘Abbasiyah,pada masa
ini mushaf Al Qur’an banyak disalin dengan Khat Tsulus dan Muhaqqaq. Sementara
tanda baca yang dipakai adalah bentuk kombinasi titik huruf dar pola al-Hajjaj
bin Yusuf dan kreasi symbol tanda baca (bukan titik) hasil kreasi al-Khalil bin
Ahmad. Adapun pola ad-Duali sudah mulai ditinggalkan, beberapa tanda symbol waqaf
tam berupa simpul huruf ta’ juga mulai dikenalkan pada masa ini. Penjilidan
dengan bahan kulit kambing dengan warna coklat dipadu dengan warna emas.
6.
PENYALINAN
MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI ILKAN (1256-1353 M)
Abad 13-14 M. Ibukota: Turkistan, Asia
Tengah.
Wilayah kekuasaan: Baghdad dan
daerah-daerah jaiahannya.
Permkembangan penyalinan Al Qur’an
pada masa ini hampir bersamaan dengan dinasti Mamluk di Mesir. Pada fase ini,
mushaf Al Qur’an banyak disalin dengan khat Muhaqqaq dengan kaligrafi kepala
surah Kufi Timur dengan warna emas. Sementara tanda baca yang dipakai, hampir
sama dengan dinasti Mamluk namun mushaf dari masa ini tidak menyertakan
beberapa tanda symbol tanda waqaf sebagaimana dinasti Mamluk.
Ragam hias (iluminasi) yang
digunakan adalah floral (tetumbuhan) dan
geometris, sedangkan penjilidan menggunakan bahan kulit kambing dengan warna
coklat, dengan dihias warna emas pada bagian luar sampul.
7.
PENYALINAN
MUSHAF AL QUR’AN MASA KERAJAAN SHAFAWI DI PERSIA (1501-1736 M)
Kerajaan Safawi, Abad 16-18 M (1501-1736 M)
Ibukota: Tabriz/ Qazvin/ Isfahan. Wilayah
kekuasan: Iran, Azerbaijan, Armenia, sebagian Irak, Georgia, Afganistan,
Kaukasus, sebagian Pakistan, Turkmenistan, dan Turki.
Perkembangan penyalinan Al Qur’an
pada masa ini hampir bersamaan dengan runtuhnya Dinasti Timur, pada fase ini
mushaf Al Qur’an benyak disalin dengan khat Tha’liq dan Nasta’liq (gabungan
antara khat Naskhi dan Ta’liq). Sementara tanda baca yang dipakai, hampir sama
dengan tiga dinasti sebelumnya. Ragam hias yang digunakan terutama adalah raga
hias floral dan geometris, penjilidan menggunakan bahan kulit kambing dengan
warna coklat dipadu dengan warna emas.
8.
PENYALINAN
MUSHAF AL QUR’AN MASA KERAJAAN MUGHAL (1526-1540 M DAN 1555-1857 M)
Ibukota: Delhi. Wilayah kekuasaan: India
Perkembangan penyalinan Al Qur’an
pada masa ini hampir bersamaan dengan berkembangnya kerajaan di Persia dan
Usman di Turki. Pada fase ini mushaf Al Qur’an banyak disalin dengan Naskhi dan
Tsulus. Sementara kepala surah dengan khat Ruqa’. Adapun tanda baca yang
dipakai, hampir sama dengan tiga dinasti sebelumnya. Terdapat kreasi baru,
seperti; tanda madd jaiz yang ditulis seperti tanda madd wajib dalam Mushaf
Standar Indonesia.
9.
PENYALINAN
MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI USMAN D TURKI (1299-1923 M)
Abad 13-20 M (1299-1923 M)
Ibukota: Konstantinopel (Istanbul). Wilayah
kekuasaan: Syiria, Mesir dan Arabia.
Perkembangan penyalinan Al Qur’an
pada masa ini hampir bersamaan Kerajaan Syafawi dan Mughal. Pada fase ini,
mushaf Al Qur’an banyak disalin dengan khat naskhi. Sementara tanda baca yang
dipakai, hampir sama dengan dua kerajaan lainnya dan tiga dinasti sebelumnya;
Dinasti Mamlkuk, Ilkan dan Timur. Seni ragam hias pada masa ini sudah sangat
maju, hal ini tampak pada mushaf-mushaf yang tersimpan hingga saat ini
kebanyakan dihiasi dengan iluminasi yang sangat indah, perpaduan antara ragam
hias floral dan geometris.
*Untuk gambar menyusul yap….
Waaaa baru ini ifni nulis paaaaanjang.
SEMANGAT \^o^/
Wassalamu’alaikum w.w.