Kamis, 29 September 2016

Wis lulus? kapan kerja? ^_^

Pagi-pagi…. SEMANGAT ^o^

Assalamu’alaikum w.w.

Yo yo yo….
Efek gak ada motor, jadi ifni sering pinjam sana-sini. Hm…. Kemarin sudah nyebarin lamaran…
Eits… bukan lamaran jodoh, kalo itu mah ifni yang mau di lamar ^_^

Efek Sarjana jadi nyari kerja ke sekolah2, ngelamar jadi guru honorer. Bismillah semoga segera ada panggilan, so ini daftar sekolah yang sudah ifni apply

1.       SMP Negeri 1 Purwareja Klampok
2.       SMP Negeri 2 Purwareja Klampok
3.       SMP Negeri 3 Purwareja Klampok
4.       SMA Negeri 1 Purwareja Klampok
5.       SMP PGRI Purwareja Klampok
6.       SMA PGRI Purwareja Klampok
7.       SMK HKTI 1 Purwareja Klampok
8.       SMK HKTI 2 Purwareja Klampok
9.       SMP IT Mutiara Hati  Purwareja Klampok
10.   SMP Negeri 1 Mandiraja
11.   SMA Negeri 1 Purwanegara
12.   SMP Negeri 2 Bawang
13.   SMA Negeri 1 Bawang
14.   SMK Negeri 1 Bawang
15.   SMP Negeri 1 Susukan
16.   SMP Negeri 2 Susukan
17.   SMP Negeri 3 Susukan
18.   SMK Negeri 1 Susukan
19.   SMP Negeri 1 Bukateja
20.   SMP Negeri 2 Bukateja
21.   SMA Negeri 1 Bukateja
22.   SMK Negeri 1 Bukateja

Semoga dari 22 sekolah yang ifni apply, ada posisi daaaaan Ifni bisa jadi guru. Aaaaamiiiiiin ^_^

Agar dekat rumah dan hemat transport, bayar hutang sampai LUNAS. Aaaaamiiiin…..

Hidup itu berjuang

Wassalamu’alaikum w.w.


SEMANGAT…. Yosh ^0^

Jumat, 23 September 2016

Penyalinan Mushaf Al Qur’an dari Masa ke Masa

Assalamu’alaikum w.w. Selamat siang, SEMANGAT….. \^o^/

Sejujurnya, Ifni bingung mau nulis tentang apa. Semoga tulisan ini bermanfaat. Aaaamiiiin
Sumber: Penyalinan Mushaf Al Qur’an dari Masa ke Masa (Bayl Al Qur’an & Museum Al Qur’an)
Saya masih ingat, pada tanggal 11 Agustus 2016 saya diajak Sulimah ke UMY bersama mz Akhyar, mz Amin dan dua IMMawati . Dan ketika masuk Sportorium ada stand yang memberikan buku gratis dan juga kuis. Salah satu buku yang saya dapat adalah ini ^o^

Oke, happy reading


Al Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diyakini kebenarannya dan keasliannya sepanjang zaman. Allah menurunkan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus senantiasa menjaganya dari segala bentuk perubahan maupun pemalsuan. 15 abad sejak diturunkan pertama kali di Gua Hira (17 Ramadan th 10 sebelum H/ 6 Agustus 611) hingga saat ini, Al Qur’an dibaca dan diamalkan oleh umat Muslim di semua penjuru dunia tanpa ada perbedaan bacaan sedikitpun, sesuai dengan riwayat qiraat yang dianutnya. Adapun dari segi penulisan, terdapat perbedaan dalam beberapa hal menyangkut rasm (khat), gaya penulisan atau kaligrafi, tanda baca atau harakat, dan aspek fisik lainnya yang secara substansi tetap sama. Dalam tulisan ini saya menulis secara singkat sejarah penulisan dan penyalinan Al Qur’an secara kronologis dari masa Nabi Muhammad SAW hingga masa Utsman di Turki.


1.       PENULISAN AL QUR’AN MASA NABI SAW (w.632)
Abad 1 H/ 7 M., Ibukota: Madinah
Wilayah kekuasaan: Jazirah Arab

Pada fase ini Al Qur’an masih banyak tersimpan dala memori hafalan para sahabat. Menuru Al-Faruqi, sampai Nabi Muhammad SAW wafat, umat Islam yang hafal seluruhnya dan sebagian mencapai 30.000 orang. Disisi lain, terdapat beberapa tulisan para sahabat dalam bentuk naskah pribadi, dan belum berbentuk mushaf seperti saat ini.
Setiap kali menerima wahyu, Nabi Muhammad SAW selalu memanggil para sahabat untuk menulikannya, sekaligus memberi arahan peletakan ayat/ surahnya. Dalam sebagian riwayat terdapat informasi, setidaknya tercatat 65 sahabat yang diberi tugas sebagai pencatat wahyu (kuttab al-Wahy). Zaid bin Tsabit merupakan salah satu sahabat yang paling sering dipanggil oleh Nabi SAW untuk mencatat setiap wahyu yang baru saja beliau terima. Sehingga praktis, semua wahyu yang sudah diterima oleh Nabi SAW tercata diatas berbagai bahan atau media tulis yang ada pada waktu it seperti: kulit binatang, pelepah kurma, batu-batuan tipis dan lain-lain. Bentuk kaligrafi yang dipakai saat itu adalah bentuk Kufi, dan tulisan pada masa tersebut belum mengenal tanda diakritik (tanda baca) dan titik-titik huruf yang memiliki bentuk serupa.
Salah satu persoalan yang sering diperdebatkan dikalangan ahli adalah dari manakah asal-usul akasara Arab. Beberapa ahli yang mencoba meneliti permasalahan ini ada yang mengatakan berasal dari Nabatean, Syriak, Funicia dan lain sebagainya. Beberapa prasasti Arab pra-Islam sudah menunjukan penggunaan titik sebagai pembeda huruf, namun hingga masa Islam penggunaan tanda titik huruf ini belum banyak digunakan, termasuk dalam penulisan Al Qur’an. Setidaknya hingga masa akhir khulafaur-rashidin, penulisan Al Qur’an belum diberikan tanda titik (naqtul I’jam).


2.       PENULISAN AL QUR’AN  MASA KHULAFAUR-RASYIDIN (632-661 M)
Pada fase ini, sejarah pembukuan Al Qur’an menjadi sebuah mushaf resmi mengalami perkembangan signifikan, yakni pada masam Abu Bakar Ash-Shiddiq (berkuasa dari th 632-634 M) dan Utsman bin ‘Affan (berkuasa dari th 644-655 M).

A.      Masa Abu Bakar (w. 634 M)
Abad 1 H/ 7 M,. ibukot: Madinah
Wilayah kekuasaan Islam: Jazirah Arab
Pada masa Abu Bakar, atas inisiatif Umar bin Khattab (w. 644 M) dibentuk tim kodifikasi Al Qur’an menjadi 1 bundel Mushaf yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit (w.637 M), yang dala seajrah dikenal dengan sebutan Suhuf Abu Bakar. Suhuf Abu Bakar merupakan naskah original yang tidak didandakan dan hanya disimpan oleh Abu Bakar selaku khalifah, sebagai langkah antisipasi terhadap hilangnya Al Qur’an bersamaan dengan meninggalnya banyak para hafiz Al Qur’an pada perang Yamamah. Tidak ada keterangan valid seperti apa fisik Suhuf Abu Bakar, namun besar kemungkinan masih sama dengan model tulisan di zaman Nabi yang belum memiliki  titik harakat dan titik huruf. Masa pengumpulan Al Qur’an di masa ini disebut jga dalam sejarah sebagai masa Kodifikasi Pertama Al Qur’an (al-Jam’ al-Awwal).

B.      Masa Utsman bin Affan (w. 656 M)
Abad 1 H/ 7 M,. Ibukota: Madinah
Wilayah kekuasan Islam: Mekah, Madinah, Syiria dan Mesir di Asia Tengah dan Azarbaijan di Asia Selatan, Cyprus dan Rhodes.
Pada masa ini, atas inisiatif Hudzaifah bin Yaman (w. 36 H) yang menyaksikan langsung perselisihan atas perbedaan qira’at antara para pasukan muslim Syam (yang bacaanya berstandar kapada bacaan al-Miqdad bin Aswad) dan pasukan muslim dari Irak (yang berguru dari Ibnu Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari) saat pembebasan Armenia dan Azerbaijan yang hampir saling mengkafirkan satu sama lain, khalifah Utsman kembali mengaktifkan tim kodifikasi dengan ketuanya Zaid bin Tsabit dengan beranggotakan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah b8n Az-Zubair (w. 629 M), Said bin Al-Ash (w. 679 M), dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam untuk merumuskan dan menyatukan perselisihan yang ada. Tim ini bekerja dengan basis Suhuf Abu Bakar yang disimpan de Ummul Mukminin, Hafsah binti Umar, dan diverifikasi dengan beberapa mushaf pribadi para sahabat dan disesuaikan dengan qira’ah-qira’ah mutawatirah, sehingga tidak terjadi perselisihan lagi, dan akhirnya terbentuklah mushaf-mushaf Utsmani (al-mashahif al-‘utsmaniyah) yang kemudian didistribusikan ke beberapa jantung-jantung kekuasaan Islam dengan diiringi para qari’ yang ahli, untuk dijadikan standar penulisan. Kota-kota tersebut adalah Mekkah, Syam, Basrah, Kufah, Madinah dan dokumen Khalifah Utsman (Mushaf al-Imam).
Bentuk mushaf yang disalin ulang pada amsa khalifah Utsman tidak banyak berbeda dengan bentuk penulisan pada masa nabi SAW dan khalifah sebelumnya, yaitu dari sisi kaligrafi yang berbentuk kufidan belum terdapat tanda diakritik (tanda baca) dan titik-titik huruf, baik titik harakat (naqt al-i’rab) maupun titik huruf (naqt al-i’jam). Masa pengumpulan Al Qur’an di masa ini disebut juga dalam sejarah sebagai masa Kodifikasi kedua Al Qur’an (al-Jam’ al-Tsani).


3.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI UMAIYAH (661-750 M)
Abad 1-20 H (40-132 H)/ 7-8 M (661-750 M)
Ibukota: Damaskus (Syiria). Wilayah kekuasaan: Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Afganistan, Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirgistan di Asia Tengah.

Perkembangan penyalinan Al Qur’an pada masa ini mengalami perkembangan cukup signifikan dari masa-masa sebelumnya, seiring dengan semakin meluasnyakekuasaan Islam. Meskipun kaligrafi yang dipergunakan pada umumnya masih menggunakan khat kufi awal yang sederhana (Early Kufic). Namun, pada masa ini telah dirintis pemberian titik-titik yang berfungsi sebagai tanda baca (naqt al-I’rab), tepatnya pada tahun 45-53 H/ 666-673 M., di Basrah, pada masa Gubernur Ziyad bin Ziyad yang pada waktu itu memerintahkan Abu al-Aswad ad-Dualiy (w. 62 H/ 682 M). Titik-titik ini berbentuk bulatan warna merah untuk tanda diakritik, hijau untuk hamzah, dan kuning untuk tasydid. Selain terjadi perkembangan titik tanda baca,pada masa ini juga dirintis titik-titik untuk huruf yang mirip (ba’, ta, tsa, dll) yang diinisiasi oleh al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, yang berkuasa pada 75-95 H/ 694-786 M melalui Yahya bin Ya’mar yang wafat sebelum tahun 90 H dan Nashir bin ‘Ashim (w. 90 H/ 709 M).
Adapun sebagian besar iluminasi atau ragam hias yang digunakan adalah ragam hias floral (tetumbuhan) dan geoemetris. Penjilidan dengan bahan kulit binatang, namun masih sederhana.


4.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI ‘ABBASIYAH (750-1258 M)
Abad 8-13 M (132-656 H/ 750-1258 M)
Ibukota: Baghdad. Wilayah kekuasaan Islam: Mekah, Madinah, Maroko, Mesir, Syiria, Irak, Persia, Turki dan India.

Penyalinan Al Qur’an pada masa ini dapat terlihat pada kaligrafi kufi awal yang bentuknya sederhana semakin berkembang, dan menajdi masyhur ke dalam 2 kelompok model/ gaya, yakni gaya Kufi Timur (Estern Kufic) dan Kufi Barat (Western Kufic). Kufi Timur diantaranya berkembang di Persia dan sekitarnya, sementara Kufi Barat lebih berkembang di Afrika Utara dan Andalusia (Spanyol). Selain berkembang Kufi Timur, pada masa Abbasiyah juga berkembang Naskhi awal (Early naskhi) dan Raihani, Muhaqqaq dan Tsulus, walaupun untuk penulisan kepala surah pada umumnya masih mempertahankan bentuk khat kufi timur.
Perkembangan pada fase selanjutnya adalah penyempurnaan titik-titik tanda baca karya ad-Du’aly, oleh al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H/ 786 M) dengan titik huruf ke dalam tanda-tanda berbentuk huruf dan simpul kecil, seperti: harakat amanah dengan bentuk huruf waw kecil, fathah baris seperti alif yang dimiringkan, tanda sukun dengan kepala ha’, tasydid dengan kepala huruf sin, dan lain-lain.
Dalam catatan sejarah, setelah runtuhnya dinasti ‘Abbasiyah 1258 M, nyaris tidak ada satupun pemerintahan tunggal dalam Islam, kecuali beberapa dinasti kecil yang ikut memberikan sumbangsih dalam sejarah penyalinan Al Qur’an, seperti; Dinasti Mamluk, Dinasti Ilkan dan Dinasti Timur.


5.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI MAMLUK (1250-1517 M)
Abad 13-16 M (1250-1517 M). Ibukota: Mesir
Wilayah kekuasaan: Mesir dan sebagian Syiria

Berkembangnya kemampuan menulis pada zaman Dinasti  ‘Abbasiyah,pada masa ini mushaf Al Qur’an banyak disalin dengan Khat Tsulus dan Muhaqqaq. Sementara tanda baca yang dipakai adalah bentuk kombinasi titik huruf dar pola al-Hajjaj bin Yusuf dan kreasi symbol tanda baca (bukan titik) hasil kreasi al-Khalil bin Ahmad. Adapun pola ad-Duali sudah mulai ditinggalkan, beberapa tanda symbol waqaf tam berupa simpul huruf ta’ juga mulai dikenalkan pada masa ini. Penjilidan dengan bahan kulit kambing dengan warna coklat dipadu dengan warna emas.


6.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI ILKAN (1256-1353 M)
Abad 13-14 M. Ibukota: Turkistan, Asia Tengah.
Wilayah kekuasaan: Baghdad dan daerah-daerah jaiahannya.

Permkembangan penyalinan Al Qur’an pada masa ini hampir bersamaan dengan dinasti Mamluk di Mesir. Pada fase ini, mushaf Al Qur’an banyak disalin dengan khat Muhaqqaq dengan kaligrafi kepala surah Kufi Timur dengan warna emas. Sementara tanda baca yang dipakai, hampir sama dengan dinasti Mamluk namun mushaf dari masa ini tidak menyertakan beberapa tanda symbol tanda waqaf sebagaimana dinasti Mamluk.
Ragam hias (iluminasi) yang digunakan adalah floral (tetumbuhan)  dan geometris, sedangkan penjilidan menggunakan bahan kulit kambing dengan warna coklat, dengan dihias warna emas pada bagian luar sampul.


7.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA KERAJAAN SHAFAWI DI PERSIA (1501-1736 M)
Kerajaan Safawi, Abad 16-18 M (1501-1736 M)
Ibukota: Tabriz/ Qazvin/ Isfahan. Wilayah kekuasan: Iran, Azerbaijan, Armenia, sebagian Irak, Georgia, Afganistan, Kaukasus, sebagian Pakistan, Turkmenistan, dan Turki.

Perkembangan penyalinan Al Qur’an pada masa ini hampir bersamaan dengan runtuhnya Dinasti Timur, pada fase ini mushaf Al Qur’an benyak disalin dengan khat Tha’liq dan Nasta’liq (gabungan antara khat Naskhi dan Ta’liq). Sementara tanda baca yang dipakai, hampir sama dengan tiga dinasti sebelumnya. Ragam hias yang digunakan terutama adalah raga hias floral dan geometris, penjilidan menggunakan bahan kulit kambing dengan warna coklat dipadu dengan warna emas.


8.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA KERAJAAN MUGHAL (1526-1540 M DAN 1555-1857 M)
Ibukota: Delhi. Wilayah kekuasaan: India
Perkembangan penyalinan Al Qur’an pada masa ini hampir bersamaan dengan berkembangnya kerajaan di Persia dan Usman di Turki. Pada fase ini mushaf Al Qur’an banyak disalin dengan Naskhi dan Tsulus. Sementara kepala surah dengan khat Ruqa’. Adapun tanda baca yang dipakai, hampir sama dengan tiga dinasti sebelumnya. Terdapat kreasi baru, seperti; tanda madd jaiz yang ditulis seperti tanda madd wajib dalam Mushaf Standar Indonesia.


9.       PENYALINAN MUSHAF AL QUR’AN MASA DINASTI USMAN D TURKI (1299-1923 M)
Abad 13-20 M (1299-1923 M)
Ibukota: Konstantinopel (Istanbul). Wilayah kekuasaan: Syiria, Mesir dan Arabia.

Perkembangan penyalinan Al Qur’an pada masa ini hampir bersamaan Kerajaan Syafawi dan Mughal. Pada fase ini, mushaf Al Qur’an banyak disalin dengan khat naskhi. Sementara tanda baca yang dipakai, hampir sama dengan dua kerajaan lainnya dan tiga dinasti sebelumnya; Dinasti Mamlkuk, Ilkan dan Timur. Seni ragam hias pada masa ini sudah sangat maju, hal ini tampak pada mushaf-mushaf yang tersimpan hingga saat ini kebanyakan dihiasi dengan iluminasi yang sangat indah, perpaduan antara ragam hias floral dan geometris.


*Untuk gambar menyusul yap….

Waaaa baru ini ifni nulis paaaaanjang. SEMANGAT \^o^/
Wassalamu’alaikum w.w.

Minggu, 18 September 2016

Pesona Matematika

Buka matamu maka kau akan melihat dunia ^_^

Bukankah kau selalu beriringan dengan MATEMATIKA? Setidaknya angka ^o^
So, ketika teringat dengan pesona matematika aku membahas tentang angka kesukaanku, Yuhuuu angka 4 dan 7.


Why? Mengapa kamu suka angka 4 dan 7 if? Mungkin pertanyaan itu akan terlontar darimu kawan.
4 dan 7


Aku menyukai angka 4 karena itu adalah no punggung pemain sepak bola favoritku, Javier Zanetti dari Inter Milan hehe ^_^

Selain itu angka 4 itu unik, coba kamu perhatikan angka 4 di atas. Apakah terlihat sama?
Yap, nilainya sama yaitu empat. Tapi coba kamu perhatikan lagi dari cara menulisnya. Tampak berbeda bukan ^o^

Untuk gambar a dan b, aku harus membuat garis sebelumnya tertumpuk atau bahasa matematikanya berhimpitan karena terletak pada satu garis. Sedangkan pada gambar c dan d ada garis yang terputus. Berbeda dengan angka lain kita cukup dengan satu garis maka bisa membuat angka 1, 2, 3, 5, 6, 7, 8 dan 9 tanpa berhimpit dengan garis sebelumnya. Jadi, itu alasanku menyukai angka 4 ^_^




Banyak orang menyukai angka 7, salah satunya yaaaa saya ini =>ifni chan<=


Begitu spesialnya angka 7, bahkan dalam Al Qur’an di sebutkan angka 7 beberapa kali.

Sejujurnya surat dalam Al Qur’an yang paling Ifni sukai QS. Al Fatihah yang memiliki 7 ayat. WOW ^o^ 

Dalam ilmu pengetahuan kita tahu ada 7 lapisan langit, 7 lapisan bumi, 7 hari dalam satu minggu dll (Silahkan searching istimewanya angka 7 dari berbagai sumber). ^_^

Dari gambar diatas adalah selera kita menulis angka 7 saja. Ahaaa…. angka 7 juga no punggung David Beckham ketika membela Manchester United. Jadi aku sangat menyukai angka 7 ^_^.



Sedemikian sehingga aku menulis blogku dengan angka 47. Baca saja ifniarf47.blodspot.co.id hehe….

Angka mana yang kalian sukai? Yang membuatmu terpesona ^o^

 Bebas saja, memiliki makna lebih itu juga bagus.


Senyum, SEMANGAT \^o^/

Jumat, 16 September 2016

Matematika

Apa yang kamu pikirka tentang matematika? Satu kata saja ^o^
Sulit
Nyebelin
Ngantuk
Bosen
Gak paham
Njlimet
Ruwet
Pentingkah?
Guru Galak dll

atau

Matematika itu
Menyenangkan
Keren
Simpel
Mudah dll

atau kamu punya jawaban lain. Silahkan tulis saja ^_^

Buat Ifni, matematika itu kehidupan (efek ambil pend mtk => tentu tidak)
Ketika SD ada mata pelajaran yang tidak kusukai, yaiiiiituuuu MATEMATIKA dan BHS INGGRIS, kenapa?
Yap, bagiku itu tidak penting. Karena dalam matematika kita mempelajari bangun datar, angka-angka dari 0-9 dll. Sedangkan dalam bahasa Inggris kita harus menghafal banyak kata dan tata kalimatnya yang berbeda dengan bahasa Indonesia membuatku pusing. hehe ^-^

Beranjak SMP bahkan nilai raport matematikaku sangat jelek. Baru saat aku kelas IX, aku menyukai matematika. Aku masih ingat, aku begitu sungguh-sungguh ketika UN berlangsung. Dan entah hari kapan setelah pengumuman kelulusan aku bertemu dengan guru matematika. Beliau memanggilku dengan akrab,
Ifni, gimana nilai UN matematikanya?
Alkhamdulillah pak, jawabku
Luluskan, katanya seraya mengulurkan tangan untuk memberiku selamat
Terima kasih pak, kataku ketika kami berjabat tangan
Tapi Ifni masih kurang teliti pak, jadi salah lima, kataku menambahkan

Aku memang tidak mendapat nilai seratus, dan bahkan tidak mencapai nilai 90. Tapi aku begitu bahagia saat itu, karena nilai yang kudapat adalah hasil belajarkuu saat itu.

Bahagia ^_^

Beranjak SMA, yap aku ambil jurusan IPA. Karena aku menyukai mata pelajaran fisika. Berada di kelas X terasa aroma persaingan yang tinggi karena kelasku adalah kelas unggulan. Ketika kelas X sistem kelas berperingkat. Saat kelas XI kita campus dan beradaptasi lagi. Langsung kelas XII, setelah gagal SNMPTN dan UM PTN aku berhenti sekolah selama satu tahun karena berbagai alasan.

Kenapa?

--------------------------

Sampai di tahun 2012 aku mencoba lagi ke Semarang dan GAGAL lagi. Oke,

Akhirnya bersama mbaku, kami ke Yogyakarta dan mendaftar di

Universitas Ahmad Dahlan prodi pendidikan Matematika.


bersambung..... besok  ^o^

NOW, you?

Sekarang, bagaimana kamu?

Welcome kawan, aku baik. Berusaha terlihat baik mungkin ^_^
Yuhuu.... Alkhamdulillah aku sudah selesai kuliah S1 di bulan Agustus lalu.
Bahagia?
Tentu saja, syukur nikmat aku panjatkan pada penguasa alam raya ini. Alloh SWT ^_^
Ketika wisuda aku harap keluargaku berkumpul.

Sekarang aku sudah di rumah dan h0..... belum mendapat pekerjaan -_-
Bingung?
Iya
Pengin pergi?
Yatta
Apa rencanamu?
Entah
Aku biarkan mengalir seraya menanti panggilan pekerjaan setelah naik turun bis kabupaten
Dan...... menanti pangeran ^_^

Ikhtiar pada Alloh SWT

Melihat kawan-kawanku sudah memiliki progres untuk masa depannya, sejujurnya aku iri.

Namun aku tak mau lagi membebani kedua orang tuaku, bersyukur aku bisa kuliah. Orang tuaku sudah banting tulang kesana sini demi aku.

Sekarang aku di rumah, sregep lan ngajeni bapak, ibu dan mbah. Aku percaya Alloh akan membantu kami. SEMANGAT ^o^